jump to navigation

“The World is One or Nothing” June 29, 2006

Posted by Dicky in International Relations and Thoughts.
trackback

Kalimat yang dikeluarkan oleh Albert Einstein yang menyatakan bahwa “the world is one or nothing” sepertinya mempunyai pemaknaan yang sangat erat dengan kondisi konstelasi dunia hubungan internasional saat ini. Dunia telah menjadi layaknya sebuah ‘global village’. Kejadian yang berada di satu belahan dunia akan langsung diketahui oleh masyarakat di belahan dunia lain. Kenichi Ohmae menyebutnya sebagai “the borderless world“. Dunia seperti sudah layaknya satu entitas yang tak terpisahkan.

Vladimir Petrovsky dalam artikelnya yang berjudul Diplomacy as an Instrument of Good Governance melihat bahwa revolusi teknologi telekomunikasi dan informasi telah berperan sebagai katalisator dasar akan hadirnya sebuah kondisi dunia yang menurut Giddens, makin ter-compressed dalam konteks ruang dan waktu. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi ini terlihat dengan adanya perkembangan mutakhir di dalam tubuh United Nations (UN) dalam menangani proses pendistribusian data-data dokumen kepada para negara-negara anggota. Sistem yang dikenalkan oleh UN ini mengacu pada penggunaan akses internet untuk proses pendistribusian data-data dokumen yang diperlukan oleh sebuah negara. Para wakil negara tidak perlu lagi repot-repot untuk datang ke perwakilan PBB, akan tetapi dapat mengaksesnya secara mudah melalui komputer dimana saja ia berada.

Selain itu, terdapat pula teknologi video-conferencing yang memungkinkan pelaksanaan tele conference pada rapat-rapat besar PBB pada waktu kapan pun meskipun para petinggi PBB dan pihak terkait sedang berada di tempat yang berbeda. Teknologi ini membuat proses negosiasi pembuatan kebijakan menjadi makin mudah untuk dilaksanakan, dengan tidak lagi menimbang adanya faktor ketidakhadiran sebagai penghalang.

Gambaran perkembangan teknologi yang telah dijelaskan di atas memperlihatkan bagaimana dunia saat ini telah terstruktur menjadi sebuah bangunan interdependensi yang saling mengait antar negara. Permasalahan yang dialami oleh satu negara akan secara langsung juga berimplikasi secara signifikan terhadap negara lainnya. Oleh karenanya, Einstein menganalogikan ilustrasi ini dalam sebuah kapal Leonardo Da Vinci, dimana semua golongan masyarakat, baik itu kaya maupun miskin, laki-laki dan perempuan, atau muda dan tua, semuanya berpartisipasi dalam berbagai satu kehidupan bersama, dimana satu sama lainnya saling menjaga untuk tidak melobangi kapal yang ditumpanginya.

Dalam peran diplomasi, ilustrasi yang dikemukakan Einstein ini membawa implikasi yang siginifikan dalam beberapa hal. Pertama, iklim teknologi yang serba canggih ini secara langsung mereduksi peran kedutaan dan diplomat dalam membawa misi-misi diplomatik mereka. Dalam arti kata lain, para aktor ini tidak dapat secara langsung mempraktekkan kegiatan diplomasi klasiknya, yang ditandai oleh adanya tugas untuk melakukan representasi dan negosiasi. Selain itu, perubahan ini membawa tantangan tersendiri bagi peran diplomasi di dalam tataran dunia internasional, baik itu dalam penanganan perdamaian dan keamanan, proses demokratisasi, penegakan hak-hak asasi manusia, dan berbagai permasalahan global lain.

Nampaknya, Albert Einstein berusaha untuk menegaskan bahwa kondisi “the world is one or nothing” menempatkan diplomasi sebagai sebuah institusi dan vanguard dari proses perubahan tersebut. Contoh kasus yang cukup representatif dalam melihat keterkaitan antara konsep “the world is one or nothing” dengan diplomasi, yang juga dapat dinilai dari sudut pandang kemajuan revolusi teknologi informasi dan telekomunikasi, adalah dengan munculnya situs-situs resmi institusi internasional dan negara. Pola seperti ini disebut juga sebagai virtual diplomacy. Artinya adalah bahwa situs resmi dari aktor negara dan non-negara tersebut menjadi garda depan dalam menyediakan informasi, data, dan dokumen yang dibutuhkan oleh aktor negara atau non-negara.

Selain itu, teknologi satelit yang memungkinkan diadakannya perundingan seperti antara RI dengan GAM melalui tele-conference yang disaksikan oleh rakyat Indonesia juga menjadi satu fenomena yang menggambarkan majunya revolusi teknologi komunikasi tersebut. Sehingga dengan demikian, akan diarahkannya kondisi dunia menjadi satu entitas yang solid atau tidak juga akan sangat tergantung pada bagaimana masing-masing entitas negara atau non-negara dapat memaknai peran, power, dan kepentingan dari entitas lainnya. Sehingga bukan tidak mungkin bahwa konsep bahwa “the world is one or nothing” menurut Einstein akan dapat terwujud dengan baik.

-Diambil dari ujian mata kuliah Diplomasi dan Analisis Politik Luar Negeri, UI Salemba 2005-

Comments»

No comments yet — be the first.