jump to navigation

Militer, Senjata dan Masyarakat Sipil July 26, 2006

Posted by Dicky in Reflection.
trackback

Kemarin saya menghadiri dua acara yang sangat seru. Yang pertama diadakan oleh Infid, topiknya tentang Ekonomi Pertahanan, dan dihadiri oleh para jenderal-jenderal yang terhormat itu. NGO dan lembaga riset pun turut hadir. Diskursus pemikiran antara pemikir dan praktisi pun menjadi sangat dinamis. Pembahasannya menyangkut seputar mau dikemanakan arah orientasi pertahanan dan sistem persenjataan kita. Acara yang kedua, diadakan oleh para pejuang KontraS, tentu dengan topik yang juga tidak kalah serunya, tentang orang hilang. Yang hadir antara lain mbak Suciwati, istri dari alharhum Bung Munir, dan istri dari Somchai siapa gitu (agak susah namanya, saya enggak hafal karena namanya banyak huruf ‘phjcht’ yang disambung-sambung, hehe). Tapi intinya, Pak Somchai ini merupakan aktivis HAM pembela para korban Muslim di kawasan Thailand Selatan. Hingga saat ini beliau hilang enggak ketahuan rimbanya karena memiliki bukti-bukti konkret tentang praktik scapegoat dari pemerintah Thailand untuk menjebak aktivis-aktivis Pattani dalam kasus-kasus pembakaran sekolah dan fasilitas umum di kawasan Thailand Selatan.

Kesan dari hadirnya saya di kedua acara yang sangat berbeda haluannya itu mungkin simple saja, yaitu bahwa kekuatan sipil harus berada di atas kekuatan militer. Mengapa? karena dengan basis argumen ini, kita akan dapat menjamin bahwa praktik operasi yang dilakukan oleh militer itu memang betul dan sesuai dengan amanat dari masyarakat sipil. Premis yang sangat mendasar, akan tetapi harus menjadi acuan dasar bagi proses reformasi pertahanan dan sistem persenjataan militer di Indonesia. Tentu jawabannya memang tidak mudah, akan tetapi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Kisah hilangnya Pak Somchai dari Thailand Selatan, dan juga meninggalnya Bung Munir itu menunjukkan bahwa kekuatan militer memiliki kekuatan yang sangat besar dalam melakukan operasi-operasi semacam itu. Jika kekuatan ini tidak segera diatur oleh masyarakat sipil, maka tugas luhur mereka untuk mengamankan negara dan warganegaranya akan berjalan secara paradoks. Mereka akan menjadi ancaman terhadap kehidupan dan hak-hak asasi dari masyarakat sipil.

Masih teringat dengan sangat segar di dalam ingatan saya, dimana pada suatu malam di tahun 1999, jembatan Semanggi diselimuti oleh hawa mencekam karena barisan bersenjata itu menyapu bersih rekan-rekan mahasiswa. Beberapa ada yang berhasil kembali ke kampus dengan selamat, namun banyak pula yang jatuh dalam larinya dan harus kembali dengan raungan ambulans yang datang silih-berganti. Sejak saat itu, saya bertekad untuk dapat melakukan sesuatu agar hal tersebut tidak terjadi lagi, yang sudah barang tentu tidak harus dengan cara yang anarkis, karena mekanisme itu tentu tidak akan membuat para bapak-bapak bersangkur itu menyimpan pelurunya untuk tidak ditembakkan ke tubuh anak bangsa. Untuk dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam proses panjang untuk meletakkan supremasi sipil di atas militer itu harus dilakukan dengan smart. Dan oleh karenanya, kekuatan ilmu pengetahuan dan civil society tidak dapat dinegasikan dalam konfigurasi perubahan ini karena potensi kekuatannya yang sangat signifikan.

Dua acara yang saya hadiri kemarin itu menjadi semacam “penyadar dan pemulih semangat” saya untuk kembali ke koridor ini lagi, setelah setahun lamanya disibukkan oleh buku-buku pelajaran dan “program pemintaran” anak bangsa, hehe. Saya pun bertekad untuk lebih serius mengumpulkan data set bagi rencana thesis saya yang akan berbicara di seputar permasalahan peredaran senjata ringan illegal dan dampaknya bagi masyarakat sipil. Premisnya pun mudah, agar senjata-senjata ringan itu tidak beredar sembarangan dan menimbulkan berbagai konflik horizontal dan memicu adanya degradasi human security bagi masyarakat sipil. Jadi kalau ada yang punya saran atau bahan-bahan data, boleh lah kasi kita petunjuk. Hehe.

Sayangnya, permasalahan mengenai potensi ancaman peredaran senjata ringan ilegal ini belum mendapat perhatian serius dari para pemberi dana dan donor untuk membiayai project-project yang berkaitan dengan proliferasi senjata ringan tersebut. (atau sudah ada dan saya kurang memperhatikan ya? kalo iya maap, soalnya sehari-hari masih ngurusi buku-buku pelajaran yang enggak kalah pentingnya dalam proses memajukan anak bangsa, hehe). Hingga saat ini, sepengetahuan saya hanya ada dua lembaga yang sangat serius dalam mengkaji mengenai peredaran ilegal small arms and light weapons tersebut, yaitu Small Arms Survey dan International Action Network on Small Arms (Iansa). Untuk tataran lokal di Indonesia, belum ada sebuah elemen NGO pun yang mencoba untuk mengangkat masalah ini, padahal intensitas konflik lokal di negeri kita sangat berkaitan erat dengan adanya transfer senjata ilegal dari luar dan juga oknum dalam negeri yang menjadi supplier senjata dan berperan sebagai salah satu penyebab dari terus meningginya tingkat eskalasi konflik tersebut.

Untuk pihak yang terakhir disebut (oknum dalam negeri), sepertinya ada yang juga harus dibenahi dalam tata reformasi pertahanan kita, yaitu garis birokrasi dalam pengadaan sistem persenjataan militer. Premisnya mungkin dapat dilihat dalam ilustrasi penemuan hampir 150 pucuk senjata di rumah alm. Brigjend Koesmayadi, yang disinyalir sangat terkait dengan pengadaan persenjataan dalam berbagai konflik horizontal di Indonesia. Ilustrasi ini menegaskan bahwa alur pengadaan sistem persenjataan di dalam tubuh militer hingga saat ini masih menyisakan marjin ruang untuk adanya penyimpangan. Jujur saja, penjelasan yang disampaikan mengenai alur birokrasi ini di acara seminar kemarin masih sangat berbelit-belit. Bahkan, jika saya saat ini ditanya pun bagaimana alur itu, saya akan menyerah enggak bisa jawab karena saking puanjangnya.

Lagi-lagi, premisnya pun simple dan mudah-mudah saja. Jikalau telah ditentukan mekanisme yang sangat efisien dalam proses pengadaan persenjataan itu, tentu tidak akan terjadi adanya penyimpangan stockpile persenjataan yang berpotensi untuk membahayakan hak-hak asasi dari masyarakat sipil. Dan sekali lagi, proses ini memang tidak mudah karena akan berurusan dengan tradisi yang telah berjalan selama puluhan tahun. Akan tetapi, kalau tidak dimulai, maka kita tidak akan pernah bisa meraih mimpi untuk menciptakan sebuah bangsa yang bebas dari konflik horizontal dan aman dari gangguan hak-hak sipil yang disebabkan oleh peredaran senjata gelap itu. Apabila proses ini tidak dimulai, maka kita juga akan terus mengalami hilangnya aktivis-aktivis dari berbagai organisasi pergerakan dan orang-orang yang sangat kritis terhadap permasalahan sosial.

Militer merupakan hal yang baik di dalam sebuah negara, akan tetapi janganlah sampai kekuatan militer ini mendominasi hak-hak asasi kehidupan masyarakat sipil. Mengapa? Karena kekuatan mereka didukung oleh persenjataan yang tidak dimiliki oleh masyarakat sipil. Oleh karenanya, mainan mereka ini harus dikontrol sedemikian rupa, agar tidak ada lagi potensi munculnya konflik-konflik horizontal di negeri kita ini. Kontrol terhadap militer pun akan mengeliminir potensi akan terjadinya Tragedi Semanggi dan Tragedi Trisakti berikutnya. Untuk memulainya, mungkin dapat diawali dari dua kata yang oleh KontraS digunakan dalam acara kemarin, yaitu “Jangan Diam!”. Berbuatlah sesuatu, karena sekecil apapun langkah yang kita tempuh, itu akan menjadi konstruksi bermakna bagi proses ini. Proses emansipasi ini memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sangat panjang, tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Ciracas, 26 Juli 2006.

Advertisement

Comments»

1. koeaing! - July 27, 2006

soeda sijapa dimoenirkeun boeng ?

2. kuyazr - July 27, 2006

kapan ya?….eehmm.besok-besok deh….maklum lagi repot nih cari duit dulu…biasa buat makan besok…

3. Dicky - July 27, 2006

Hehe…coba di-convert ke basa jaman sekarang dulu yak bung. Kurang lebih begini: soeda sijapa dimoenirkeun boeng = sudah siapa dimunirkan bung? Begitu yak bung? Betul ndak? Kalo ndak salah begitu lah ya.. hehe..

Ik koerang paham bhethoel itoe deutcsh spraken poen boeng.. aken tetapie, ik moengkin aken mentjoba oentoek mendjawab itoe boeng poenja pertanjaan poen. Ik koerang taoe sesiapa lagi poen jang dimoenirkan oleh para inlander en inlandir itoe boeng, semoga tidak ada lagi poen. Begitoe lah boeng kiranja.

Bole la adjari kitaorang ini basa deutcsh spraken itoe lagi poen boeng.. salam kompak dan mantap..

4. tuingtuing - July 27, 2006

Senjata dan militer dalam sudut pandang saya memang cukup ambigu, bayangkan, di satu sisi, kita hendak menempatkan sipil di atas militer, di satu sisi, kita juga menginginkan “kedaulatan” negara tidak terganggu (masih inget malaysia vs indonesia??).
Orang-orang berpangkat di atas sana pasti sangat gatel sekali melihat persenjataan kita yang seadanya dan pasti langusng keok jika diserbu sama australia (kalo ini masalah loyalitas deh). Hal inilah yang menyebabkan militer “mungkin” menghalalkan segala cara untuk meraih persenjataan terbaik. Yang dijadikan tameng ya lagi-lagi “kedaulatan negara”. Saya sendiri yang percaya bahwa pembelian senjata secara gelap (yang kemudian ditangkap di AS itu) oleh siapa itu namanya (katanya sih agen legal TNI???) pasti diketahui oleh para jenderal itu, tapi, biasalah, mereka akan cuci tangan…cuci mulut..bahkan kalo bisa “mandi besar” sekalian..hehehehe…
Oya….jangan sampai dikau dimunirkan yaa…

5. kuyazr - July 28, 2006

ngapaaaaaiiiiin pake senjata….kita kan punya banyak dukun….hehehehe….ujan aja bisa dikendaliin kalo ada demo…hehehe…tiup aja tuh…fyuh…jadi bebek deh…hehehee…wek,wek,wek….

6. wiwit - August 3, 2006

weleh…hadir di acara INFID tho Mas…

7. Dicky - August 3, 2006

hehehe… kalo gak salah, saya sempet ngobrol sama mbak ya pas mau pulang? ngobrol2 tentang asisten MDGs itu? blog-nya mbak keren banget.. saya jadi kangen sama ibu saya.. hehe..

8. babad - August 11, 2006

dikhy, coba lihat blok sy http://babad.wordpress.com

9. putsky - August 23, 2006

dicky, .. missing you already.

10. abgaduh - August 24, 2006

Bung Dicky (???? – 23 Agustus 2006),
Agaknya janji Anda agar kita meneruskan diskusi tentang liberalisme dan Easterly takkan kesampaian. Selamat jalan, Bung. Nice to have known you, though only for a very short while…

11. philips vermonte - August 25, 2006

Bung, sejak ente pergi, blog ente ramai benar dikunjungi orang. Mungkin oleh teman-teman ente yang merasa kehilangan atas kepergian ente yang mendadak. Di hari berpulang ente, saya lihat blog stat nya 800. Sekarang 950 lebih. Memang banyak yang berduka, tapi saya yakin Bung baik-baik saja di sana.

pjv

12. grahadea - August 26, 2006

Hello Bos….

Hal pertama yang saya lakukan pas mendengar kabar sedih itu adalah googling dengan keywords: “dichiya zoraya”. Berharap bisa nemu sesuatu yang bisa “cerita” dimana dicky sekarang.
Hits ini.. itu.. dll.. penerimaan USM unpar, dan.. artikel detik.com yang di submit oleh dichiya zoraya. “wah… ternyata dicky pernah nulis untuk detik”, trus gak ada lagi…
Kita lost contact sekitar 4 taun kali ya sob?

Padahal Dicky adalah salah satu temen deket saat itu di HI Unpar, yaa… secara emang saya jarang nongkrong di kampus sedangkan Dicky emang deket sama semua orang.

Aneh ya baru sekarang gue baca blog elu, ide-ide, tanggapan, analisa, dll…. HI banget lah.. secara sekarang gue kerja di tempat yang gak HI, tapi sangat Mas Sapta lah… ;)
Kenapa juga baru sekarang ninggalin comment di blog lu. waduh…. aneh.

Oiya…. dan baca comments dan blog dari temen-temen lu mengenai pengalaman dan kesan mereka bergaul dengan seorang dicky. Temen-temen lu sayang banget sama lu sob….

Kemarin malem kita semua ke rumah lu di duren sawit, kakak-kakak lu, Orangtua lu, semua cerita tentang dicky itu sekarang… lu pergi dengan sangat tenang(insyaallah khusnul khotimah ya….. gw doain banget itu), keluarga lu ikhlas, dll…. syukur alhamdulillah yang diatas, keluarga, dan temen-temen lu sangat sayang sama lu.

Sayang banget kita belum sempet ketemu lagi…. Ya.. akan…. mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi di-”sana”.

Gue yakin di tempat lu sekarang ada jaringan wi-fi :D , atau apapun nama teknologinya di”sana” pastinya lebih canggih lah ya…. who knows?
Mudah-mudahan doa-doa terbaik gue buat lu diterima ya.. Amin

salam hormat,

13. neng asti - August 30, 2006

i didn’t had the chance to know you better back then.. but now i know that you are a very nice person :) ..

14. putsky - August 31, 2006

dic, buku lo masih di gw satu. gw inget lo suruh gw selesin bacanya sebelon gw balikin. i’ll do it. dan kalo masih ada buku2 gw yang di elo, gw relain, deh. soalnya gw uda ga inget judul2nya lagi. i’ll consider them as gifts so you’ll have no burden on the other side, bro. :)

15. novrina - September 14, 2006

militer = senjata = sigh……
masyarakat ingin damai…..

16. Daniel.... bro....ssss - October 17, 2006

bagai mana kita orang mau damai… kalau-kalau kita di injak2 oleh semua orang, katanya serumpun toh orang kita tetap aja di bunuh ama tuh..orang malaysia….. orang singapore… itu……, emang kita mau…., coba deh tugh pemerintah…. pikir seperti cina…, jiplak aja tuh… senjatah……. kalau perlu coba kita orang contoh iran mereka bisa buat pesawat sendiri….. bagai mana bisa kha…… jangan tanya kenapa ?……, kita orang semua tidak pernah coba lihat dan mau belajar dari masa lalu………….?

17. online phentermine - February 3, 2007

online phentermine

news

18. Domba Garut! - July 14, 2007

Satu hal yang mesti kita ingat (juga), bahwa paradigma militer yang ada dan dianut oleh TNI saat ini sudah berbeda dengan kemarin dan segala bentuk praktik-minusnya. Bukan semata membela secara buta, negara sebesar Indonesia adalah penting untuk mempunyai ‘sufficent capacity’ untuk membela-mempertahankan-keutuhan-serta-integritas bangsa dan tanah air.
Coba deh, berbicara, masuk dan mengenal mereka [militer kita] hari ini, jabat tangan mereka, dengarkan masukan dari mereka tanpa prasangka, mereka adalah manusia juga yang punya konflik internal dari apa yang telah terjadi dimasa lampau.Have you been talking to them lately? :-)

Di sisi lain, kita harus waspada dari propaganda dengan sarat muatan luar yang menggunakan topeng HAM, guna memandulkan ‘kapasitas’ dan kemampuan kita dalam hal ‘force of deterence’. Perlu diketahui bahwa banyak kepentingan [asing] yang tidak ingin kita kembali kuat, kuat dalam arti mampu berdikari dan self-sufficient, dalam menghidupi diri, menjaga diri dan menjadi stabil sebagai pemain regional ASPAC. It’s not about civilian should be over the military or otherwise, we are each an equal partner. Why? because we are living in the same boat. If one on top another, the boat will collapse for sure! [and those people out there REALLY love to see our boat flipped! and got drowned.]

Rumah kita ini mesti dijaga dari luar kedalam BUKAN sebaliknya. Reformasi dan civil liberty yang kebablasan pun adalahindikator yang kontra-produktif dan ini cenderung menghalalkan penggembosan kapasitas [militer kita] sebagai pelindung dan pembela bangsa.

Disukai atau tidak, kita masih bergantung pada manufaktur dalam hal persenjataan, selain dari memang beberapa hal sudah mulai diproduksi sendiri melalui industri strategis [PINDAD, PAL, dlsb]..slowly and progressing, we are making ourselves self-sufficient. Namun tetap, mereka [militer kita] mesti dibekali baik dengan skills dan perlengkapan yang layak. DPR juga harus tau akan hal itu… jangan cuman bisanya menggong-gong saja.

Control, check & balances itu adalah fungsi pengawas yang sudah ada dalam tubuh mereka, mekanismenya berangsur-angsur mengalami perbaikan dan integritas oversight juga sudah berjalan. Yang salah seyogyanya ditindak. Yang benar ya harus diakui dan diteruskan. Carrots & Sticks, not sticks…sticks… and always sticks!

Things are improving.. TNI dan semua organisasi armed forces lainya adalah organisasi yang bertumbuh-kembang mengikuti dan menyiasati perkembangan jaman, baik regional dan internasional.

Let’s stop pointing fingers, and reuniting.. what happened wrong in the past, let them be our slap on the face, or a punch on the throat – whatever one may call it. This point forwards is what MATTERS most!

Kalangan sipil dan militer mesti berjalan bersama bergandeng tangan, dan penting buat mereka dalan jajaran sipil dalam pemerintahan dan juga kita semua untuk sadar akan tanggungjawab masing-masing individu-nya (a shared responsibility) bahwa mempertahankan bangsa dan negara bukan hanya semata tanggung jawab mereka yang berseragam dan dicekeli bedil!

Prajurit pejuang dan pejuang prajurit, itulah sosok yang kita semua perlu untuk menjadi. Hey! ayo bersatu.. kalau kita kelahi terus, cumanjadi bahan olokan dan tontonan tetangga-tetangga itu. Malu doong!

Indeed, this is nice posting, and glad to know that people are still being such critics these days, let’s unite.

19. aribowo - July 28, 2007

tapi kenyataan nya sipil selalu berada di bawah militer, sipili selalu takut sama militer

20. ucok - November 7, 2007

pantek malaysia

21. repass - June 3, 2008

Repass says : I absolutely agree with this !

22. Relaunch - June 19, 2008

Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

cheers, Relaunch!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.